Kamis, 26 Juni 2014 0 komentar

Ramadhan Menulis Bersama "Tadarus Sastra FLP Sumut 2014 : Saatnya Jadi Penulis!"


Assalamualaikum sahabat semua...
Sudah punya rencana Ramadhan ini mau ngapain?
Kalau berdiam diri aja, sayang dong Ramadhannya enggak termanfaatkan dengan baik...

Menuntut ilmu itu hukumnya fardhu loh bagi tiap muslim dan muslimat
So, bayangin kalo kewajiban itu kita tunaikan di bulan Ramadhan. Kebayang nggak berkahnya kayak apa? Pahalanya setumpuk apa? Wallahu a'lam...

Yuk! Isi Ramadhanmu dengan bergabung di
TADARUS SASTRA 2014!
Ini adalah agenda tahunan yang dilaksanakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Sumatera Utara.
Hanya dalam seminggu kamu akan dilatih menjadi penulis!
Ini enggak bohong! Beneran cuma seminggu...

Pilih waktunya :
GELOMBANG I : 7 - 12 JULI 2014 (Pagi)
GELOMBANG II : 14 - 18 JULI 2014 (Sore)

Cocok waktunya?

Ada dua kelas pelatihan yang bisa kamu pilih
Ada kelas FIKSI
Disini kamu akan berlatih cara menulis cerpen dan puisi yang baik.
Juga kelas NON FIKSI
Nah disini kamu bisa belajar menulis artikel, opini, resensi ataupun esai.
Hanya Rp. 80.000 untuk satu kelas yang kamu pilih.
Yap! Dengan 80.000 saja kamu sudah dapat perlengkapan pelatihan seperti modul, notes, pin, pena dan sertifikat.

"Gak ada diskon nih?"
Ada, kalau kamu ambil dua kelas (Fiksi+Nonfiksi sekaligus) cukup dengan Rp. 150.000 saja.

"Terus apalagi?"
Eeei, kamu juga bisa bertemu langsung dengan praktisi media loh! Jadi kamu bisa tanyakan langsung apa karya kamu sudah layak muat atau kamu bisa meminta saran dari mereka yang sudah professional di bidangnya.

Keren kan!

Pengajarnya adalah para trainer FLP Sumut yang sudah terlatih dan sudah memiliki banyak karya yang dimuat di media local maupun nasional.
Tunggu apalagi?
Serap ilmunya...
Serap ilmunya...
Serap ilmunya...

Ramadhan ini, kamu harus bisa jadi PENULIS!
Daftar Tadarus Sastra?
Ketik DAFTAR_TS_NAMA LENGKAP_FIKSI/NONFIKSI_GELOMBANG
kirim ke CP :
081260889393 (Putri) | 085270596304 (Teguh)
Jumat, 16 Mei 2014 5 komentar

Yang Unik Acara Tasyakuran Wisuda ADK Unimed Mei 2014 ^_^


Ceritanya,
15 Mei kemarin dalam acara Tasyakuran Wisuda ADK UNIMED 2014, didakanlah sebuah acara bertajuk "Nominasi Wisudawan dan Wisudawati Ter... Ter... Ter..."
Ada terkalem, ter-update, terramah, termuda (padahal yang dituakan :v), sampai tercetarrrr membahana badaaaaayyyyy!!!

Dan, tak disangka tak diduga, saya mendapat nominasi sebagai Wisudawati ADK Unimed 2014 ter-Multitallent
Sungguh saya kaget ketika mendengar nama saya disebut oleh MC saat itu. Sebab siapalah saya ini...
Rasanya walaupun sederhana, tetap saja rasanya tak pantas menjadi yang ter-multitatllent... hehehheheh

Jazzakillah khairan jazaa' kepada seluruh panitia yang telah mempercayakan dan menganugerahkan pada saya nominasi yang sederhana, namun bermakna indah ini. Sungguh saya tersanjung mendengarnya. Terimakasih pula telah bersama membantu mensukseskan acara tasyakuran kemarin untuk seluruh panitia, baik ikhan maupun akhwat.

Tak lupa pula ucapan barakallah kepada seluruh ADK Ikhwan dan Akhwat yang juga diwisuda tanggal 14 Mei lalu. Semoga ilmu yang diperoleh berkah bagi kita dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan kemaslahatan ummat, Amin. Untuk yang sedang berjibaku dengan skripsi, semoga dimudahkan segera menyusul, Amin...

Medan, 170514 :)
Selasa, 22 April 2014 0 komentar

Musikalisasi Puisi CahDeli

Senin, 17 Februari 2014 0 komentar

Petemuan dengan Kupu-kupu biru dan Guguran daun kering yang Jatuh di antara Sepatu #1

Kunamai ia kupu-kupu biru, sebab memang dirinya suka dan mencintai makhluk ringan bersayap indah itu. Aku mengenal kupu-kupu itu belum lama. Belum sampai sebulan sejak pertemuan kami 28 Januari lalu di kotaku ini. Sejatinya, 19 Januari lalu, aku berada dalam satu ruangan dan acara yang sama dengan si kupu-kupu biru itu. Hanya memang kami belum mengenal satu sama lain kala itu. Sejak penampilanku baca puisi di acara itu, sejak itulah interaksi itu terjadi. Sebenarnya telah lama pula kutahu ia lewat dunia maya. Ingin bertegur sapa kala itu, tapi canggung agaknya lebih besar ketimbang penasaran di hati ini.

Beberapa hari sebelum bertemu di kotaku, aku dan kupu-kupu itu saling sijabat kata lewat ruang maya bernama Facebook. Kelebat kata hilir mudik dalam percakapan itu. Kemudian pada sijabat kata di hari ke sekian, si kupu-kupu mengabarkan bahwa ia akan bertandang ke kotaku. Ada bunca bahagia di hati kala itu. Betapa tidak, seorang yang sejak pertemuan kami di kotanya kemarin, walau tak berjabat suara dan bersitatap mata, juga tak pula berjabat tangan, akhirnya akan purna pada sebuah simpang bernama pertemuan, ya... pertemuan di kota sejuta marga ini.

Si Kupu-kupu biru pun akhirnya tiba di kotaku. Kami berjanji untuk bertemu sehari setelah ia sampai. Sejatinya, aku bingung hendak kubawa ke mana ia pergi. Sebelum akhirnya mengabarkan tempat janji betemu, aku berpikir keras hendak kuajak ke mana ia. Dan, akhirnya kuputuskan untuk membawanya ke sana. Ya, ke tempat di mana selama ini aku menimba ilmu. Tempat yang sering di sebut orang yang ada di dalamnya sebagai kampus pembangunan karakter. Dan tempat yang juga populer di kalangan mahasiswa yang menempuh pendidikan di dalamnya sebagai kampus hijau. Ya, kampusku. Kubawa kupu-kupu itu ke sana. Kuajak ia duduk sejenak di tempat favoritku di fakultas, di mana di tempat itu aku selalu dapat melihat berbagai rupa karakter manusia, melihat berbagai masalah, mencari inspirasi, atau sekedar menyeruput segelas cappucinno dingin yang kupesan lewat seorang kakak betubuh subur di sana. Ya, kuajak dia duduk di kantin sambil bertukar kata dan melempar celoteh juga derai tawa riang ke semesta.

Perlahan hari merangkak siang. Selepas menikmati sepiring nasi ayam rendang dan segelas cappucinno sebagai makan siang hari itu, kuajak ia menuju mushollah terdekat, tentunya masih di seputaran kampus. Dia pun menurut saja.

Ketika berjalan menyusuri trotoar di seputaran kampus menuju mushollah, sesekali kami melempar celoteh, sesekalidiam, sesekali tertwa dan... Hei, kami juga bercakap tentang gururan daun kering nan indah dari reranting pohon yang berdiri kokoh di sekitar kampus., serupa guguran daun musim gugur di luar negeri. Ah, indah. Gumam kami. Lantas, kami biarkan daunan kering itu jatuh luruh di antara sepatu kami. Sejurus kemdian, si kupu-kupu memungut selembar daun, kemudian tersenyum sambil menyerahkan daunan kering itu padaku.

"Untuk apa daun itu?" Tanyaku.
Ia kembali tersenyum sambil menjawab, "Aku teringat pada film India, di mana mereka menjadikan selembar daun kering sebagai ganti lembar kertas untuk menyampaikan pesan cinta kepada kekasihnya."

Aku pun tersenyum mendengar tuturannya, sembari mengambil daun kering ditangannya itu.
"Itu namanya daun maple. Daun itu memang indah." Ujarku kemudian. Hening kembali menyergap dan memenjara kata-kata  kami dalam bisu. Daunan kering masih tetap jatuh di antara sepatu, dalam hati celoteh berkelebat, walau bersembunyi.

Selepas tunai sholat dzuhur, kami tak langsung beranjak dari mushollah. Kami memilih duduk sejenak sampai waktu beregerak menuju sore. Kami putuskan untuk tetap duduk di mushollah itu. Diam kembali menyeruak diantara kami. Tapi tak berjalan lama diam dan bisu itu, sebab tak berapa lama kembali celoteh-celoteh kami lempar ke semesta. Sesekali bicara, dan tak ketinggalan saling lempar tawa.

Lalu, dari seberang, seekor kupu-kupu jantan tenyata sedang menuju tempat kami berpijak untuk menjemput si kupu-kupu biru. Dan perjumpaan itu akhirnya terhenti pada pukul 15.00 hari itu. Tapi kami berjanji esok akan bersua kembali

**Bersambung...
0 komentar

Catatan Rindu : #Tentang Hujan






Biar kutulis saja engkau, sebab rindu ini agaknya telah terlalu tanak kerena sekian lama mata tak bersitatap denganmu, hidung tak menghirup syahdu aroma itu, aroma tanah basah khas yang kerap membangunkan sukam rindu di kalbu kala kau jelma menyapa bumi. Rintik yang serupa melodi piano ditelingaku kala berdenting engkau di dahan dan genting, tempiasmu

Ah, semua tentangmu, semua kurindu.

Rindu, ya. Aku rindu tatkala kubiarkan dengan sengaja tubuh ini basah sebasah-basahnya, lantaran ingin kurasakan tiap inchimu menelusup ke pori-pori kulitku. Dan, lantaran ingin kunikmati tempiasmu membelai wajahku, juga membiarkan tanganku, masih tetap dengan sengaja menyentuhmu, memainkanmu di telapak tangan ini.

Ingatkah? Sekali waktu, kita kerap bersua. Kubiarkan saja tubuh ini basah dalam dekapmu, sementara semua orang di samping kiri, kanan, depan dan belakangku menghambur, mempercepat langkah, bahkan berlari mencari tempat berteduh karena takut kalau-kalau mereka basah karenamu. 

Tapi aku tidak.
Sering kubiarkan saja kau membasahi tubuh ini, walau aku tahu, jika ibu atau ayah mengetahui, mereka pasti akan berang padaku. Tapi kalau pun mereka marah, biarlah. Asal aku bisa bersitatap dan merasakan dekap hangatmu, walau mereka bilang kau jahat dan dingin, tapi bagiku tidak. Kau hangat. Hangat sekali.
dan tak jarang kubiarkan semuanya basah,
jaket, 
sepatu,
kaus kaki,
tas...
Semuanya...

Tapi memang,
pernah juga kupacu langkahku bahkan setengah berlari di bawah guyuranmu. Kau mungkin mengira aku sombong atau bahkan tak cinta lagi padamu. Tidak, tidak sama sekali. Kau mungkin mengira aku takut tubuhku basah karenamu. Tidak, itu juga bukan. Bukan lantaran tak cinta dan takut padamu, tapi karena aku harus menemui mereka yang berhubungan dengan keberlangsungan studiku. Padahal, sungguh, waktu itu ingin sekali rasanya menyapamu, membiarkan diri ini basah, sebab kemarin-kemarin kau jarang menyapaku dan menyapa seluruh penduduk di jagad raya ini.

Kau ingat, kapan terakhir kita bertemu?
Ah, jangan. Jangan dulu. Hemmm,
kau tau, aku selalu rindu dan butuh hadirmu. Bahkan setelah jatuh cinta pada senja dan laut, sekarang aku jatuh cinta padamu. Ya, aku jatuh cinta padamu, duhai hujan. Tiap hendak kuramu sajak dari tangan ini, alangkah indah dan syahdu ketika kau ada. Ketika rinduku purna pada kekasihku yang lain yang kunamai ia kopi, hadirmu pun tetap kunanti. Lalu, ketika imaji ini sunyi dari rimbun kata, aku pun butuh kau segera jelma di hadapan, agar mampu otak, hati, dan tanganku ini merangkai mereka dalam bait indah, entah itu puisi, cerpen, atau hanya sekedar cerita biasa.

Sekarang, 
Kuulang lagi tanya. Ingatkan kau kapan terakhir kali kita bertemu?
Hampir dua pekan. Ya, dua pekan sudah kita tak bersua. Dua pekan sudah tak kurasa guyuran dan tempiasmu membasahi tubuh ini, dua pekan sudah aku merindu, 
dua pekan sudah...

Dan kini,
aku hanya mampu menanti dan terus merapal do'a,
agar kau segera jelma, 
agar purna rindu itu.

Kepada engkau, duhai matahari. Maafkan aku. Bukan hendak kuselingkuhi dan kuhianati engkau. Bukan aku tak suka dan membencimu. Tapi saat ini, aku memang sedang sangat merindu,
Ya, merindu hujan itu.
Hujan yang entah pergi ke mana...



..170214..
Masih setia menantimu,
#Hujan
Minggu, 26 Januari 2014 0 komentar

Tentang Bocah Gembul Tionghoa di Angkot Maghrib Tadi

Maghrib tadi, di dalam angkot sepulang dari menunaikan agenda wajib di lingkaran kecil seperti setiap pekannya, ketika di dalam angkot, mataku lekat menatap bocah gembul keturunan tionghoa ini. Tangan kirinya asyik memegang cup ice cream, sedang tangan kanannya lahap menyendok ice ceram ke dalam mulut kecilnya. Mulut mungilnya pun turut asyit mengunyah ice cream, tampak ia sangat menikmati ice cream perpaduan strawberry dan vanilla itu. Gayanya santai sekali. Badan gembulnya agak menyonong ke perempuan, yang sepertinya kakaknya, sedang kaki kanannya ia topangkan pada paha ibunya. Mata Saya tak dapat beranjak lepas untuk terus menatapnya. Diam-diam saya tersenyum menatap bocah gembul berkulit putih berpipi bakpau ini. Lantas tangan saya langsung merogoh tas dan mengambil hp, lalu ya, saya abadikan wajahnya ke dalam kamera hp. Dia tak tahu kalau saya sedang mengambil fotonya, dia tetap asyik santai setelah ice creamnya habis. Anak ini kemudian mengembalikan memori saya kepada sosok gembul di film China, Boboho

**260114
#CeritaDiAngkotLepasAgendaWajibTadi



Sabtu, 25 Januari 2014 0 komentar

Perempuan di Sudut Restauran


di sudut restauran,
seorang perempuan duduk
segelas kopi jelma di hadapan
perempuan mengaduk kopi,
meletakkan gelisahnya dalam gelas itu
hatinya melantun lagu
ntah tentang apa.

di sudut restauran,
si perempuan duduk
ia pesan sepiring gelisah pada pramusaji itu
hujan mengiring geletar di hatinya
pada remah kenangan usang
ntah pada apa.

di sudut restauran,
seorang perempuan duduk,
berjuta purbasangka labuh di pangkuan
pada kelebat fragmen yang lalulalang di benaknya
ntah itu apa.

di sudut restauran,
perempuan itu, menjerang rindu
entah pada siapa.
 

Dinda Musyafir,
0 komentar

Pada Kursi-kursi Kosong di Restauran




Pada kursi-kursi kosong di restauran
Kursi-kursi bisu
tiada mampu berujar apa
kursi-kursi kosong

pada mereka
rerimbun resah kerap ditinggal sengaja
kursi-kursi kosong
teronggok tiada bertuan di restauran itu
kursi-kursi yang kerap memangku beribu tanya
kursi-kursi bisu
kursi-kursi kerap menanak sabar
tiap hati memulangkan kesahnya
pada kursi-kursi bisu nan tak bertuan
di restauran
begitu saja
di tubuh kursi-kursi kosong

Sekira kursi-kursi bisu itu bicara,
gerangan apa terjadi pada kita?
Ah,
Pada kursi-kursi bisu
di restauran itu
terlabuh banyak cerita
yang ditinggal sengaja, atau tanpa sadar ditinggal tuannya

::Dinda Musyafir::
0 komentar

Mudah-mudahan Suatu Masa Ada






Sungguh,
telah lama kutanak ingin jua pinta padaNya,
agar mataku bersitatap denganmu,
suaraku bersijabat dengan suaramu

Rasanya,
ingin kupuisikan saja engkau,
agar ranggas segala harap dan rindu ingin bertemu denganmu
duhai, maestro

**Kepada Sapardi Djoko Damono,
Mudah-mudahan, suatu masa,
ada...

::Dinda Musyafir, 260114::

Jumat, 06 Desember 2013 4 komentar

Digital Library Unimed : Syurga Baca Terbaru di Kawasan Kampus Hijau


Kali ini, Saya akan bagikan hasil keliling-keliling saya di gedung terbaru, tempat terbaru di kampus saya tercinta, Unimed. Ya, tempat itu adalah Perpustakaan Digital atau bahasa tetangga sebelah jurusan saya Digital Library. 

Sejatinya, ini adalah kali pertama alias perdana Saya menginjakkan kaki di gedung yang katanya merupakan perpustakaan digital terbesar di Indonesia (kalau saya tidak salah begitu). Padahal tempat ini telah lama selesai. Sayanya saja yang jarang-jarang datang ke kampus, sampai-sampai baru kemarin pagi-siang bisa menyambangi tempat yang amazing ini. Maklum MSS (Mahasiswa Sibuk Skripsi), Hehehe.

Saya sebut tempat ini syurga baca, karena memang sejatinya di tempat ini kita bukan hanya merasa nyaman untuk membaca, tapi kita juga akan dibuat takjub dengan tampilan beranda depannya, fasilitasnya, sampai furnitur-furnitur yang ada di dalam gedung ini. Penasaran?!! Yuukkk disimak!

Kita mulai dari nol ya.... (Jadi teringat slogan iklan badan perminyakan Indonesia. Hehehhe)


Pelataran Depan Digilab Unimed

Nah, foto yang sedang kawan-kawan lihat ini adalah tampilan pelataran beranda gedung Digital Libarary ini. Gedung ini sendiri terdiri atas 5 lantai. Ketika memasuki areal ini, kita akan disuguhi pemandangan yang membuat kita berdecak kagum. Bagaimana tidak, pelataran gedung ini sangat luas. Bunga-bunga dan tanaman hias tertata rapi, ada kolam buatan yang riak airnya meneduhkan dan menyejukkan mata, dan ini yang unik, di pelataran halaman ini ada gundukan-gundukan terbuat dari semen yang bentuknya serupa tempat penontong panggung pertunjukan, yang di undak-undakan itu kita bisa duduk sekedar santai, mencari inspirasi, bahkan mengerjakan tugas. Di pelataran ini pula banyak mahasiswa yang bernarisis ria fot sana foto sini, baik foto sendirian, ataupun yang gerombolan bersama teman-teman. Oke, sekarang kita masuk ke dalam ya!


Replika Digital Library Unimed



Salah Satu Bagian di Lantai 1
Di lantai 1 begitu memasuki gedung digilab kita akan disajikan pemandangan seperti yang terlihat di foto di atas. Foto pertama adalah foto replika gedung digilab sendiri. Sebagaimana biasa bangunan gedung, pastinya akan ada replika gedung tersebut yang pastinya di desain oleh seorang arsitek yang handal, sehingga terciptalah sebuah gedung digilab yang indah dan mengagumkan bagi siapapun yang berkunjung dan melihat. Kalau foto di bawahnya ini, nah, begitu kita berada di pintu masuk, di depan mata kita akan terlihatlah sudut yang ada di dalam foto ini. Bagaimana? Sudah mulai takjub? Hehehhe. Tahan dulu. Masih ada bagian-bagian lain yang akan semakin membuat teman-teman ingin datang berkunjung ke digilab ini. Oke, mari kita lanjut!
 Ruang Baca dan Diskusi yang Adem
Masih di lantai 1. Selain di ruang yang berjajar rak-rak buku, di gedung ini juga disediakan tempat khusus untuk kita yang mau membaca dengan suasana yang lebih nyaman dan tidak dikelilingi oleh rak-rak buku. Ruangan ini disebut ruang baca dan diskusi. Selain membaca, di dalam ruangan ini juga disediaan tempat untuk kita berdiskusi dengan teman-teman dengan suasana yang kondusif dan nyaman. Nah, mau lihat tempat selanjutnya? Oke, selanjutnya kita ke locker room alias tempat penyimpanan tas dan barang-barang bawaan. 

Locker Room dan Lockernya

Kalau biasanya kita ke perpustakaan setiap akan menitipkan barang kita selalu menjumpai petugas penitipan barang terlebih dahulu, kemudian menyerahkan kartu mahasiswa, dan lalu si petugas akan memberikan kita kunci dan nomor locker kita, maka kalau di digital library hal itu sudah tidak ada. Jangan khawatir, tidak akan kita temukan wajah petugas penjaga yang tidak mengenakkan dan ketus saat akan menitipkan barang bawaan kita. Cukup hanya tinggal masuk ke ruangan loker, kemudian cari loker yang masih kosong. Bagaimana kita tau lokernya masih kosong? Nah, untuk mengetahui loker mana yang kosong, kita harus gunakan kartu perpustakaan Unimed yang telah dilengkapi dengan barckode. Di masing-masing loker sudah ada detektor yang ketika kita tempelkan kartu perpustakaan sebagai ID kita akan secara otomatis loker akan membacanya. Kalau loker penuh, akan ada tulisan "All locker has full." Tapi kalau lokernya kosong, ketika kita meletakkan barcode di kartu perpustakaan di detektor, lalu kita tekan OK, maka akan keluar tiket seperti ini, diiringi suara otomatis dari loker "Please put your ticket." dan pintu loker pun akan terbuka. Canggih bukan?
Tiket Barcode Locker
Perlu diketahui, ticket barcode yang kita miliki tidak boleh sampai hilang. Kalau sampai hilang, maka kita tidak akan bisa mengambil barang kita di dalam loker. Karena untuk membuka kembali loker dan mengambil barang kita, kita harus gunakan barcode yang tertera di tiket. Satu lagi, tiket ini hanya bisa digunakan sekali saja untuk membuka loke. Jadi, sebelum beranjak dari locker room menuju ruang buku, ada baiknya lengkapi betul-betul benda apa saja yang kira-kira ingin teman-teman bawa. Adapun benda yang boleh di bawa adalah hanya laptop dan pena. Kalau kita ingin catatmencatat, petugas sudah menyediakan kertas yang boleh diambil sesuka hati seperlu kita. Jika kita sudah menggunakan untuk membuka sekali dan kita tutup lalu kemudian kita buka lagi ketika kita hendak meninggalkan digilab, maka kita harus minta bantuan petugas di locker room untuk membuka kembali. 

Nah, sekarang waktunya kita masuk ke ruangan dalam. Sebelum kita masuk ke ruangan koleksi buku, terlebih dahulu kita harus mengecek status keanggotaan atau bisa dibilang medaftar dengan cara meletakkan barcode ID yang ada di kartu perpustakaan ke detektor di dekat komputer yang berada tepat di samping kanan pintu masuk menuju ruang koleksi buku. Hal baru terobosan Unimed lainnya di dalam digital library ini adalah alat pendeteksi maling yang jikalau ada orang yang diam-diam membawa buku tanpa sepengetahuan petugas, maka alat itu akan berbunyi. Yah, seperti di pusat-pusat perbelanjaan ataupun sarana publik yang telah memakai alat semacam itu.

Kita menuju ke lantai selanjutnya...

Di lantai atas, barulah kita dapat melihat pemandangan sesungguhnya di dalam gedung digital library ini. Ya, pemandangan rak-rak buku yang berjejer rapi dan di kelompokkan sesuai dengan kriteria buku. Kalau di perpustakaan Unimed yang lama kita tidak begitu nyaman, lain halnya bila kita berda di dalam digital library ini. Kalau sudah berada di dalam, rasanya kita betah dan tidak ingin beranjak. Selain untuk mencari, dan membaca buku, digital library ini juga sangat kondusif digunakan bagi kita yang ingin sekedar sendirian mencari inspirasi ataupun ketenangan dalam mengerjakan ataupun mencari ide. Karen di sini di sajikan banyak tempat duduk yang membuat kita nyaman dan tenang, di tambah lagi dengan adanya musik-musik klasik yang mengalun dari speaker yang tertempel di tiap sudut ruangan yang semakin menambah kenyamanan kita.

Berada di dalam digital library ini, kita seperti berada di dalam perpustakaan luar negeri, Jepang misalnya. Karena suasana, penataan, interior, dan segala hal yang ada di dalamnya sangat-sangat bagus, rapi, dan menandakan bahwa itu adalah digilab terbaik yang pernah ada, khususnya di kota Medan ini. Ruangannya juga sangat kondusif. Jika kita ingin terhindar dari hal-hal yang mengganggu konsentrasi atau kita ingin sekedar menyendiri mencari ide dan ispirasi, kita bisa mecari sudut yang paling enak, di mana telah tersaji bangku dan meja di sana yang akan semakin membuat kita nyaman.

Nah, biar teman-teman nggak penasaran sama isi dalam gedung digilab ini, nih saya bagikan foto-foto yang berhasil saya abadikan dari hasil keliling-keliling saya di digital library kemarin. Lets check this out! ^_^

 Ruang Koleksi Cetak

 Rak Buku yang Tersusun Rapi Berdasarkan Kategori


 Di Sudut inilah kita bisa menikmati suasana tenang dan kondusif









                                                           



Yang panjang berdiri tegak dan ada tulisan itu adalah kategori buku


Suasananya seperti di luar negeri, bukan? ^_^


 Komputer Online untuk mempermudah mengakses koleksi


Kalau foto yang ini nih, foto narsis-narsisan saya selama keliling dan jeprat-jepret di dalam digital library Unimed ini ^_^




 Sok serius baca yaaaakkk ^_^


 Numpang eksis di depan gambar sejarah sekolah-sekolah zaman penjajahan di Medan ^_^


  Membaca sejarah UPT Perpustakaan Unimed

Narsis lagi di pelataran ^_^


Gimana? Teman-teman tertarik untuk berkunjung dan menikmati syurga baca terbaru di Unimed ini?  Jika kawan-kawan mahasiswa Unimed, kawan-kawan bisa langsung datang untuk menikmati fasilitas di digital library ini. Nah, bagi teman-teman yang bukan mahasiswa Unimed, kawan-kawan jangan takut, teman-teman hanya tinggal mencari teman dekat atau kenalan di Unimed untuk bisa menikmat fasilitas yang amat sangat bagus dan bermanfaat untuk menunjang akademik kita, terutama dalam hal mencari literatur, baik untuk kuliah, yang sedang skripsi, sedang thesis, disertasi, atau sekedar mengerjakan tugas dan berdiskusi maupun mencari inspirasi dan ketenangan dari segala keributan yang mengganggu. Bukan hanya dipakai untuk tempat narsis-narsisan foto sendirian ataupun bersama teman-teman. Boleh saja, tapi tetap kembali fungsikan digilab ini sebagaimana fungsinya ya... ^_^

Mudah-mudahan bermanfaat ^_^
Terimakasih, syukria, syukron, arigato, thank you ya! ^_^

07 Desember 2013
01.09 dini hari
>>






                                 




Jumat, 15 November 2013 0 komentar

Re Post : Dowry Sytem di India



Ceritanya kemarin Saya dengan salah seorang Kakak berbincang soal maskawin ala India pada sebuah postingan di FB, yang kemudian dari komentar teman lain Saya ketahui sistem itu disebut DOWRY. Kemudian Saya blogwalking, bertemulah kemudian saya dengan salah satu blog yang isinya bagus membahas tentang Dowry tadi. Dan sebagai seorang dari keturunan India dari sebelah Ibu, Saya rasa adalah hal yang penting bagi Saya mengetahui dan membagikan pengetahuan tentang Dowry ini. Ini dia isi bahasannya. Silakan dibaca. Semoga bermanfaat ;)
>>>>>>>>>>>>>

Boy meets girl, boy falls in love with girl, boy and girl gets married…. Begitulah kira-kira gambaran ideal kita tentang sebuah pernikahan yang jadi awal terbentuknya rumah tangga. Tapi cerita macam itu sepertinya sangat sulit ditemui di India. Di tengah maraknya modernisasi di berbagai bidang, masyarakat India masih berpegang teguh pada tradisi perjodohan (arranged marriage). Orang tua menjadi pihak yang paling berhak menentukan dengan siapa anak-anak mereka akan menikah. Yang terpenting bagi mereka adalah hubungan antara kedua keluarga, bahkan terkadang menjadi lebih penting dari hubungan pasangan yang akan dinikahkan itu sendiri. Pertimbangan yang umum adalah kedua keluarga berasal dari latar belakang social dan pendidikan yang sama, persamaan budaya, kebiasaan dan agama, serta memiliki reputasi yang baik.

Dahulu, seringkali pernikahan dilangusngkan ketika sang anak masih di usia sangat muda. Dengan alasan tersebut, mereka menganggap anak mereka belum mampu memilih sendiri pasangan yang tepat. Alasan lain adalah untuk mecegah sang anak memilih sendiri pasangannya yang dikhawatirkan tidak sederajat, atau dianggap bukan dari keluarga yang baik. Perkembangannya sekarang, walau sang anak telah berada di usia yang mapan dan dewasa, perjodohan tetap menjadi keharusan di India.

Masalah selanjutnya berkaitan dengan ‘Arranged Marriage” di India adalah dowry. Berbeda dengan yang biasanya terjadi di Indonesia (Muslim) dimana pihak lelaki akan menyerahkan mas kawin kepada wanita, di India pihak wanitalah yang memberikan mas kawin kepada calon suami. Walau ini dilakukan pemeluk hindu di India ini, saya pribadi tidak menganggap itu tradisi hindu, karena saya rasa, umat hindu di Indonesia tidak melakukan system dowry ini (-mohon diralat kalo salah-).

Sebetulnya awal mula dilakukan sistem dowry ini memiliki tujuan yang baik. Dowry dimaksudkan sebagai hadiah atau bekal dari orang tua kepada anak perempuannya yang akan memasuki kehidupan rumah tangga. Kekayaan hadiah ini kemudian bisa disimpan atau digumnakan untuk kebutuhan sang anak, jika saja dia tidak bekerja, atau sewaktu-waktu terjadi sesuatu pada sang suami. Selanjutnya fungsi dowry ini berkembang sebagai bantuan biaya pernikahan. Belakangan fungsinya makin disalahgunakan oleh pihak suami beserta keluarganya. Seringkali tuntutan mereka atas dowry menjadi tak terkira. Dan pihak istri jarang sekali mendapatkan bagian dari dowry tersebut.

Biasanya jika pihak pria meberikan mas kawin sejumlah harta, ia mengharapkan mas kawin balasan sebanyak sepuluh kali lipat dari apa yang sudah ia belanjakan (misal 10 gram emas berarti akan mendapatkan paling tidak 100 gram emas). Semakin berkualitas sang pria (misalnya: dokter, insinyur, lulusan luar negeri, tampan dan kaya) maka harganya pun akan semakin mahal.

Yang jadi masalah, walau mas kawin udah dilunasi, kadang pihak suami... dan biasanya melibatkan seluruh anggota keluarga... masih menuntut ini itu dari pihak Istri. Domestic Abused secara fisik dan mental sering terjadi. Istri yang tidak kuat biasanya melakukan bunuh diri (tingkat bunuh diri di India termasuk tinggi) atau yang paling seram untuk dibayangkan…. si suami membakar Istri hidup-hidup bahkan ada juga yang dibakar bersama anaknya (jika anaknya perempuan). Tahun lalu bahkan ada kasus, si suami yang notabene adalah dokter dan seluruh keluarganya yg dokter semua menyuntikan virus aids ke istri dan bayi perempuannya (mereka positif HIV setelah 6 bulan sebelumnya test hasilnya negatif). Walaupun masih dalam penyelidikan benar atau tidak virus HIV bisa disuntikan... karena sampai sekarang suami dan keluarganya raib entah kemana.. Alasannya karena sang suami tidak cinta kepada istri dan ingin menikah dengan wanita lain. Dia menikahi istrinya dulu semata-mata karena dowry yang ditawarkan ayah sang istri.

Sebetulnya praktek dowry ini sudah dilarang oleh undang-undang di India sejak tahun 1961, tapi pada prakteknya tetap saja berlangsung hampir di setiap perkawinan, termasuk yang well educated.

Masalah dowry ini juga yang membuat tingkat aborsi bayi perempuan di sini tinggi. Kebanyakan orang tidak mau punya anak perempuan karena memang biayanya mahal. Makanya menanyakan jenis kelamin bayi saaat USG adalah tindakan yang melanggar undang-undang. Tapi sayangnya seperti juga sistem dowry, hal itu masih sering terjadi. Sensus tahun 2001 menyebutkan hanya terdapat 933 orang perempuan dari 1000 orang lelaki. Kasus Dowry Death sendiri konon mencapai 7000 kasus per tahun. Termasuk di dalamnya adalah kasus bunuh diri, pembakaran, kekerasan rumah tangga, dan beberapa ‘kecelakaan’ lainnya.

Percaya atau tidak selain penjara yang dikhususkan untuk menampung ibu-ibu mertua pelaku kejahatan dowry, disini ada lho Bank yang menyediakan fasilitas tabungan buat bekal anak perempuan menikah kelak. Jadi orang tua bisa mulai menabung sejak anaknya masih bayi.

Sebuah kisah menarik… Nisha Sharma, seorang mahasiswa komputer programing di New Delhi, Pada awal tahun 2003 pada saat umurnya menginjak 21 tahun akan menikah dengan seorang guru. Kedua belah pihak (dalam hal ini keluarga) bertemu melalui jasa matrimonial. Sebagai hadiah, sang ayah telah menyiapkan sebuah mesin cuci, dua buah kulkas, dua buah home theater system dan sebuah mobil sedan yang telah dikirim ke kediaman calon menantu, hasil dari menabung selama 10 tahun. Pada hari pernikahan, tepat sebelum ikrar pernikahan dimulai, ibu dari sang pria menuntut 25.000 USD. Mereka mengancam akan membatalkan pernikahan jika tuntutannya tidak dipenuhi. Ketika pihak orang tua Nisha menolak permintaan tersebut, mereka memukul ayah Nisha. Hal inilah yang membuat keberanian Nisha muncul… Pada saat itu juga dia menelpon polisi dan melaporkan tindakan calon keluarganya itu. Mempelai pria beserta orangnya akhirnya dipenjarakan. Nisha Sharma kemudian menjadi pahlawan karena keberaniannya menolak system dowry.

Tampaknya India memerlukan banyak Nisha Sharma yang berani menolak sistem yang telah mendarah daging ini. Jika tidak… mungkin Angka Dowry Death akan tetap tinggi.

Dikumpulkan dari berbagai sumber.
*Repost dari blog aprilisa.blogspot.com :) 
Senin, 12 Agustus 2013 0 komentar

Menanak Kesabaran Untuk Segores Tanda Tangan #3 (END)

Esok harinya,
Pukul 07.30 aku sudah berangkat dari rumah. Takut terlambat. Karena katanya, hari ini ada seminar di kampus, dan beliau menjanjikan bimbingan pukul 08.30. Begitu informasi yang saya dapatkan dari asisten beliau.

Sesampainya di kampus,
Aku kaget. Kampus masih lengang. Jurusan masih sunyi. Pintu-pintu masih terkunci. Dalam hati aku berkata, 'Sudah jam segini, masih sunyi? Apa iya ada seminar kalau jam segini saja masih sunyi.'

Ditunggu, ditunggu, ditunggu
yang ditunggu tak kunjung datang. Semakin lama jurusan semakin rama oleh mahasiswa yang tak lain juga menunggu beliau. Berhadapan dengan beliau memang butuh kesabaran ekstra. Itupun belum tentu dilayani dan dapat tandatangan. Padahal banyak mahasiswa yang menunggu beliau, termasuk aku tentunya. Kelewat letih menunggu, kuputuskan untuk masuk dan duduk di ruangan kelas. Ada beberapa teman juga yang menunggu di kelas waktu itu, sambil selonjor kaki atau setengah tidur. Rasa kantuk pun seketika menyergap mataku. Yang ditunggu sedari tadi masih belum muncul juga. Kuputuskan untuk berselonjor kaki di kursi, meletakan kepala di tangan kursi, dan ya, tau sendiri setelahnya apa yang terjadi. Hampir setengah jam aku tertidur, dan bangun ketika seorang kakak stambuk mengguncang kakiku.

"Dek, sudah datang beliau."

Setengah malas kubuka mata, dan menggeliat meluruskan badan dan kaki. Tepat pukul 10.00 beliau baru hadir. Itu pun tidak langsung melayani. Tidak ada tanda-tanda mau melayani kami semua. Alasannya ada tamu. Lama sekali kami menunggu, tapi tak juga ada kepastian.

Pagi merambat siang. Eh, beliaunya mau sholat dulu katanya. Oke ditunggu. Lantas, siang merambat sore. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Barulah beliau memanggil kami satu per satu. Tiba-tiba jantungku berdetakn kencang sekali. Harap-harap cemas agaknya. Aku tak henti berdoa dalam hati kala itu. Sampai akhirnya tibalah giliran namaku yang dipanggil oleh sang asisten. Aku pun masuk ke dalam ruangan beliau kemudian.

Di dalam ruangan beliau, jantungku terus berdegup. Semakin keras, hingga kakiku gemetaran, tanganku berkeringat. Aku pun duduk di kursi tepat di samping beliau. Beliau membolak-balik halaman proposalku. Jantungku makin tak karuan degupnya.

"Halaman 11. Sudah diperbaiki ini, Lailan?"  Tanya beliau kemudian. Kujawab lalu dengan anggukan. Melihatku hanya mengangguk, beliau lantas berkata.

"Jangan ngangguk aja! Iya, jawab iya!" Tanyanya lagi, sehingga membuatku sedikit terlunjak kaget.
"Ssssssuuddaaahhh, Bu." Jawabku tergagap.

Lantas, apa yang terjadi kemudian???
Beliau membalik lembar proposalku, dan Ya... Beliau menggoreskan sebuah tanda tangan di lembar pengesahan revisian propsalku. Degup jantung berganti dengan gemetar di dada. Gemetar karena bahagia.
Senang, senang sekali rasanya. Sera seperti dalam mimpi. Kucubit lenganku, ternyata memang bukan mimpi. Ini nyata! Ya, nyata! Bahka aku merasa seperti tidak menginjak bumi waktu itu. Rasanya seperti melayang dan merasa tubuh ini ringan sekali.

Akhirnya, penantian, kesabaran, dan doaku selama ini diijabah oleh Allah. 3 bulan yang berat dan menyakitkan akhirnya berbuah manis juga. Memang benarlah kiranya, bulan ramadhan adalah bulan penuh kebarkahan bagi seluruh ummat, termasuk buatku.

Tak hentinya kuucapkan syukur kepada Allah waktu itu. Keluar dari ruangannya, langsung kudatangi temanku. Aku melompat kegirangan dan senangnya bukan main. Begitu juga temanku itu.Teman seperjuangan yang juga lebih dulu ditandatangani proposalnya oleh beliau tapi sebelumnya merasakan pahit yang sama denganku.  Aku langsung meng-sms ibu memberitahu kabar bahagia itu. Alhamdulillah...

Hemmm,
Ada satu hal yang kuherankan hari itu, dosenku yang biasanya berdandan dengan polesan bedak dan pulasan lipstick di bibir, hari itu tak ada pulasan lipstick di bibir beliau. Mungkin saja karena puasa.

 Terima kasih yah, Bu dosen karena sudah menandatangani proposal saya. Maaf  kalau selama ini saya suka suuduzhon dengan ibu. Semoga Allah senantiasa melembutkan hati ibu dan memberi ibu kesehatan. Amiiinnn. ^_^

Dan karena berkah ramadhan, kekuatan do'a, dan kesabaran yang kutanak selama tiga bulan ini, akhirnya Allah memberikan bahagia itu kepadaku. Kesusahan itu pasti akan bisa terlewati, dan aku yakin itu. Dan Allah itu tak tidur. Dia melihat usaha dan mendengar doaku. Berkat kesungguhan dan tawakkal jugalah, akhirnya Allah menggerakkan tangan dan membukakan hati dosenku itu, hingga akhirnya proposalku di SAH kan juga, untuk akhirnya menjalani penelitian.

Dan kuharap,
Semoga setelah ini, kemudahan akan selalu, dan terus ada...
Semoga...


*Sabar itu pahit, tapi buahnya manis sekali....
Dan, percayalah pada kekuatan do'a, 
Ini kali ke dua aku merasakan betapa menakjubkannya sebuah do'a...

Medan, 130713
0 komentar

Menanak Sabar Untuk Segores Tanda Tangan #2

Lebih kurang satu jam menunggu di luar, akhirnya beliau selesai memberi bimbingan. Aku langsung berdiri dan bergegas mendekati beliau yang waktu itu berjalan menuju ruangannya. Aku membaca airmuka dan moodnya hari itu sepertinya bagus. Tapi entahlah. Lihat saja nanti, batinku kala itu.

"Ada apa?"
"Ini, Bu, saya mau menyerahkan yang kemarin."
"Tuh, ada kan kertasnya!"
"Iya, Bu. Ini tereslip di proposal anak 2009."
"Ya, saya nggak mau tau itu. Yang penting ada kan?!"

Hemmm, begitulah dosen. Kalau salah pun tau mau disalahkan. Tetap mahasiswa yang salah.
Waktu itu, aku berharap sekali agar propsalku ditantadangani. Tapi ternyata, kembali prosolaku direvisi untuk ke dua kalinya. Hemmm, okelah. Baru dua kali. Sabar saya mah.

Begitu menerima revisian, langsung kukerjakan. Selanjutnya kuantarkan kembali ke kampus. Eh, ternyata beliaunya sedang sibuk menguji seminar. Datang lagi, Eh, sedang sibuk menguji sidang. Rencananya mau datang lagi, Eh, beliaunya mau pulang kampung, karena waktu itu sudah menjelang ramadhan. Hemmm, baiklah, seminggu lagi mungkin beliau pulang, pikirku kala itu.

Dan, perkiraanku tepat. Seminggu setelahnya beliau pulang. Sudah puasa ramadhan tentunya. Ada informasi dari temanku bahwa selama puasa beliau agak malas membimbing dan jarang ke kampus. Tapi kalau tidak dicoba, mau sampai kapan begini terus? Akhirnya kuputuskan untuk datang ke kampus menyerahkan proposalku kembali. Sebelumnya aku telah mengirimkan sms kepada mahasiswa asisten beliau untuk menanyakan apakah beliau ada di tempat atau tidak.

Masukkan aja dulu proposal kakak. Nantika dipanggil. Kalau belum dimasukkan ya nggak dipanggil2lah, Kak.

Begitu balasan smsnya.
Jadilah hari itu aku datang ke kampus khusus hanya untuk menyerahkan dan memasukkan proposal kepada asisten beliau, dan sang asisten menyuruhku untuk datang kembali esoknya, pukul 08.30 wib. Sebab di jam tersebut ada bimbingan esok hari bersama beliau.

Sepulangnya dari kampus hari itu, aku tak henti berharap dan berdo'a agar esok proposalku ditandatangani.


0 komentar

Menanak Kesabaran Untuk Segores Tanda Tangan #1

Tulisan ini sebenarnya ingin kutuliskan jauh sebelum hari ini. Ini tentang pengalamanku selama tiga bulan lebih menunggu dan menanak sabar demi mendapatkan segores tanda tangan perngesahan proposal skrispi dari dosen penguji. Catat, dosen penguji, bukan dosen PS (Pembimbing Skripsi).

Aku sudah menemuinya sejak bulan April akhir untuk meminta revisian proposal setelah semiar dan mendapatkan tanda tangan di lembar persetujuan. Tapi, dari sejak akhir April itu, tak ada hasil yang kudapatkan. Malah aku harus pulang membawa kecewa dan membungkus air mata, jua menahan gemuruh yang  menggedor sukma, sehingga Ayah dan Ibu pun tak kuasa bertanya bagaimana hasil dan perkembangannya.

Melihat anak sulungnya bersedih, Ibuku yang lembut, cantik, dan baik hati agaknya paham akan gundah sedihku. Ibu kerap mencoba menyabarkanku, agar aku tak sampai frustasi karena hal ini, walaupun terkadang Ibu marah dan kesal juga karena skripsiku tak kunjung selesai, dan aku tak kunjung wisuda.

Kalian tau? Suatu waktu, Aku harus menunggu dosenku itu sampai harus melantai di depan kantor jurusan. Terkadang, beliau tidak ada di tempat. Kalaupun ada, beliau juga terkadang tak ingin ditemui. Ditambah lagi dengan kesibukannya yang harus tugas keluar kota ini, kota itu. Seminar sini, seminar situ. Plesir sini, plesir situ. Lengkaplah sudah penderitaanku menantinya, hanya untuk segores tandatangan.

Akhirnya, proposalku pun direvisi olehnya. Masih revisi. Catat, masih revisi. belum ditandatanganu. Wajar kalau sekali bertemu direvisi. Tapi yang membuatku pusing adalah coeretan revisiannya dengan tulisan yang tak jelas, yang semakin membingungkan dan membuat kepalaku pusing. Oke, baiklah. Akan kuperbaiki sesuai yang kubisa dan kumengerti. Setelah kuperbaiki, kuatarkan lagi perbaikan itu kemudian. Lantas beberapa hari setelahnya aku datang lagi untuk melihat perkembangan hasil revisianku. Apakah akan ditandatangani, atau malah di revisi lagi. Tapi, bukan malah tanda tangan yang kudapat, malah kesedihan yang mampir.

Hari itu, aku mengalami sesuatu yang membuatku tak berhenti menangis. Prosposalku tidak ditandatangani oleh beliau, sementara semua proposal lain yang masuk ditandatangani. Alasannya karena aku tidak membawa lembar revisian dan proposal lama seminar. Padahal yang lain pun ada yang tidak membawa hal yang sama. Aku katakan padanya bahwa, kertas revisianku hilang di kantor jurusan ketika berkasku masuk ke dalam ruangan beliau kemarin. Tapi beliau tidak terima, malah menyuruhku mecari sampai dapat.

Sedih. Sedih sekali rasa kala itu.
Aku sedih karena semua proposal yang masuk ditandatangani, tapi kenapa punyaku tidak? Apa beliau dendam padaku? atau tak suka padaku?
Hari itu, aku menangis sejadi-jadinya. Sampai di kantor tempat kerjakupun aku tidak konsentrasi bekerja, sebab gejolak di dada terus menyesak. Kuputuskan untuk menenangkan diri di mushollah kantor, dan berdoa agar Allah memberiku petunjuk agar aku bisa kembali mendapatkan kertas revisianku yang hilang dan semoga dosenku itu diluluhkan hatinya.

Esok harinya,
Aku datang lagi ke kampus. Aku bertemu dengan seorang adik stambuk yang mengalami nasib yang sama denganku, tapo proposalnya sudah di ACC oleh dosenku itu.
"Kakak Sudah?"
"Belum, Dek. Entahlah ini kok lama kali."
"Lho, apa masalahnya, Kak?"
"Beliau minta kertas revisian waktu seminar. Yang selembar itu, Dek. Padahal kertas kakak itu hilang kemarin di ruangan beliau."
"Oh, waktu itu adalah, Kak kertas revisian terselip di proposal saya. Ntah punya kakaknya itu. Siapa nama kakak?"

Waktu itu, serasa ada sedikit angin segar dan cercah harap ketika si Adik memberi informasi demikian.

"Oh, iya dek? Lailan Syafira nama kakak. Tolong yah, Dek dicari. Kalau bisa cepat diinfokan lagi ke kakak yah. Soalnya kakak harus menjumpai beliau lagi segera."
"Iya, Kak. Nanti saya cari dulu dan lihat ya, Kak."
"Oke. Makasih ya, Dek."

Setelah perjumpaan dengan adik stambukku yang setelah kukenal bernama Isna, tak henti kurapal do'a agar bernarlah kiranya kertas revisian yang terselip di proposalnya itu adalah milikku.
Esok paginya, kukirimkan sms kepada Dik Isna itu.

Aslm. Gmn, dk? Ketemu? Punya kakak atau nggak?

Wslm. Iya, Kak. Ini punya kakak sama Isna.  Rumah Isna di Tembung. Kalau mau, ambil ke rumah yah, Kak. Tapi kalau kejauhan, besok aja kita jumpa di kampus.

Alhamdulillah.
Makasih yah, Dk. Tolong smskan alamat lengkap adk. Biar kk kesana hrni.

Hari itu juga, Aku langsung menuju daerah Tembung untuk mengambil kertas revisianku itu. Jarak dari rumah ke Tembung terbilang jauh. Dan sejujurnya, Aku tidak hapal betul daerah Tembung itu. Tapi Aku berdoa kepada Allah agar jangan sampai kesasar, dan alhamdulillah, tidak kesasar.

Usai menunaikan sholat dzuhur, saya pamit unduk kepada Isna dan kedua orang tuanya, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke kampus, dengan tujuan kembali menyerahkan proposal skripsi kepda dosen penguji saya itu. Sampai di kampus, ternyata berliau sedang membimbing mahasiswa bimbingan skripsinya. Lebih kurang satu jam saya menunggu. Waktu itu juga ada abang stambuk saya yang menunggu beliau di luar ruangan kelas.
 
;